Terimakasih telah berkunjung ke Blog desa Sukamulya, Informasi seputar Desa

Kamis, 17 November 2011

Setengah Hati

Mengangkat sebuah permasalahan klasik yang sangat mengelitik,
Sejatinya, suporter hadir di tribun untuk mendukung atlet atau tim kebanggaannya yang tengah bertanding. Lalu, apa jadinya kalau mereka hadir karena hasil rekayasa?
Begitulah fenomena yang akan kita temui saat memasuki area Jakabaring Sport City (JSC), tempat penyelenggaraan SEA Games XXVI di Palembang. Di JSC, tiap harinya ada ratusan bahkan ribuan orang yang datang dan diinstruksikan untuk mendukung negara-negara peserta SEA Games. Sumber detiksport
Mereka adalah para pelajar sekolah menengah dari berbagai penjuru Kota Palembang. Mereka hadir di JSC dengan didampingi oleh guru-guru mereka. Tiap sekolah mengirim 100 siswa pilihan dan 10 guru.
Suporter dadakan ini memakai atribut yang nyaris sama, yakni kaus oblong berwarna putih. Yang jadi pembeda cuma bendera negara yang mereka dukung di bagian dada dan nama negara di punggung.
Di tiap venue, suporter dadakan ini diminta untuk memberikan dukungan kepada atlet dari negara yang benderanya ada di kaus mereka. Misalnya, suporter dengan kaus Kamboja diwajibkan untuk mendukung Kamboja, suporter dengan kaus Singapura juga wajib mendukung Singapura, dan seterusnya.
Sebagai imbalan atas aksinya di tribun, mereka dijanjikan akan mendapatkan uang lelah dengan jumlah yang belum diketahui plus makan siang tiap harinya. Semua atribut untuk mereka juga sudah disediakan, yakni dua buah kaus, topi, sepatu, dan bendera negara yang mereka dukung. Biaya transportasi pun sudah ditanggung.
"Saya sudah tiga hari ke sini. Kemarin ke voli pantai, hari ini ke renang, tenis, dan voli pantai lagi," aku Ahmad Kurniawan Saputra, pelajar kelas X SMK 3 Palembang yang diminta mendukung Laos.
"Kami mendapatkan izin untuk tidak masuk sekolah. Kalau ada ulangan, ya nanti ikut susulan," katanya.
"Seru sih, tapi capek. Ini kemarin saya dapet tanda tangan atlet voli pantai Laos," tuturnya seraya menunjukkan sebuah tanda tangan di kausnya.
Saat ditanya bagaimana seandainya Laos bertemu Indonesia di sebuah pertandingan olahraga, Kurniawan mengaku akan sejenak melupakan tugasnya sebagai suporter Laos.
"Saya akan diam saja. Kalau dukung Laos, berarti saya selingkuh," katanya.
Sikap berbeda ditunjukkan oleh Muhammad Puji Kurniawan, siswa kelas IX SMP 16 Palembang. Meski di kausnya terpampang bendera Malaysia, dia tetap saja ikut mendukung atlet Indonesia.
"Saya dukung dua-duanya. Kalau Malaysia tampil, saya dukung. Indonesia tampil, saya dukung juga," ujarnya saat mengisahkan pengalamannya menyaksikan cabang loncat indah.
"Capek sih, tapi senang bisa jalan-jalan," tutur Puji.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Ditunggu partisipasinya

Headline Editorial