Terimakasih telah berkunjung ke Blog desa Sukamulya, Informasi seputar Desa

Kamis, 11 Februari 2010

Awas Ada Partai Porno dan Pemilih Porno

ardi_winangun

Info sumber : sabili

Di tengah suasana panas berita mengenai Kasus Bailout Bank Century dan berbagai penyikapan terhadap kinerja 100 hari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tiba-tiba dan seolah-olah kita disentakan berita soal rencana Khadijah Azhari, nama populernya Ayu Azhari, yang hendak maju sebagai bakal calon Wakil Bupati Kabupaten Sukabumi pada Pilkada Kabupaten Sukabumi 2010.

Oleh Ardi Winangun*

(Pengamat Politik dan Pengurus Presidium Nasional Masika ICMI)

Mendengar rencana itu banyak orang menanggapi dengan tersenyum. Mengapa demikian? Sebab perempuan yang berprofesi menjadi artis selama ini jauh dari hingar bingar politik. Tidak hanya itu, dalam riwayat hidupnya, artis kelahiran 19 November 1969 itu penuh dengan sensasi, misalnya dirinya menikah sampai tiga kali, suami yang pernah tercatat adalah Mike Trump, vokalis White Lion; membintangi film-film yang terbilang panas, dan banyak foto-foto dirinya yang mengumbar bentuk tubuhnya secara vulgar.

Ayu Azhari selama ini memang dikenal sebagai artis yang kontroversial di beberapa filmnya. Dalam sebuah film berjudul Without Mercy pada tahun 2006, misalnya, Ayu Azhari melakukan adegan panas dengan bintang film asing Frank Zagarino.

Meski memiliki track reccord yang demikian, sepertinya partai pengusung Ayu Azhari tidak peduli dengan itu. Sebuah partai politik di Kabupaten Sukabumi, sangat bersemangat mendukung Ayu Azhari. Bahkan partai itu sudah memasang baliho Ayu Azhari yang mengenakan kerudung hitam di sudut-sudut jalan di Sukabumi.

Apa yang dilakukan oleh partai-partai yang mendorong Ayu Azhari maju dalam pilkada, karena mereka belajar dari kesuksesan para artis yang juga maju dalam pilkada dan akhirnya menang. Kemenangan Rano Karno dalam pilkada di Kabupaten Tangerang, Dede Yusuf dalam Pilkada Jawa Barat, dan Dicky Chandra dalam Pilkada Kabupaten Garut, membuat banyak artis-artis lainnya ramai-ramai ikut dalam pilkada. Meskipun ada beberapa artis yang tumbang dalam pilkada, seperti penyanyi dangdut Saipul Jamil dalam Pilkada Kota Serang, Primus Yustisio Pilkada Kabupaten Subang, Helmy Yahya dalam Pilkada Sumatera Selatan.

Menangnya para artis dalam pilkada disebabkan karena dirinya merupakan sosok yang sangat dikenal. mereka dikenal karena dirasa lebih fresh, penuh semangat, mempunyai penampilan yang gagah, ganteng, atau cakep.

Selain itu, rival artis yang maju dalam pilkada baik incumbent maupun calon lainnya, yang biasanya mantan pejabat (mantan menteri atau purnawirawan) adalah orang-orang yang gagal dalam kiprah pembangunannya sehingga mereka jera untuk memilih mereka kembali.

Sebagai mantan Gubenur Jawa Barat mungkin Danny Setiawan adalah sosok yang gagal dalam membangun provinsi itu sehingga mereka memilih pasangan Achmad Heryawan dan Dede Yusuf. Demikian pula rival lainnya, Agum Gumelar juga sebagai cagub juga gagal dalam pilkada itu.

Rencana Ayu Azhari ikut dalam pilkada adalah sesuatu yang syah dan dijamin oleh UUD NRI 1945, bahwa setiap warga negara berhak dipilih dan memilih, tidak ada boleh yang melarang dirinya. Namun yang menjadi pertanyaan sejauh mana kemampuan si artis itu dalam masalah pembangunan daerah? dan sejauh mana partai pengusung bertanggung jawab secara moral atas jejak rekam calon yang diusungnya kepada masyarakat?

Sepertinya partai politik kita saat ini sangat kalap dalam pesta-pesta demokrasi sehingga mereka mencalonkan siapa saja yang penting tanpa melihat jejak rekamnya. bila dirasa seseorang mampu mendulang suara yang cukup besar, maka dirinya akan diusung menjadi calonnya.

Indonesia sebuah negeri yang masih menjunjung tinggi norma-norma agama dan budaya ternyata dalam memilih seseorang pemimpin tidak memperhatikan faktor-faktor itu. Ini berbeda dengan negara-negara lain yang lebih longgar aturan hidupnya namun bila memilih pemimpin, mereka adalah orang yang tidak pernah mempunyai masa lalu yang dirasa buruk. Bila dalam perjalanan masa jabatannya, aibnya terbongkar, ia akan dilengserkan.

Di Amerika Serikat, misalnya, nilai-nilai hidup sangat bebas dan longgar, namun bila hendak menjadi gubenur, presiden, atau pejabat negara lainnya, dirinya harus bersih dari korupsi dan skandal sex.

Skandal seks yang dilakukan oleh Gubernur New York Eliot Spitzer akhirnya membuat dirinya mengundurkan diri dari jabatannya. Pengunduran dirinya ini terkait ancaman impeachment atas keterlibatannya dalam skandal prostitusi. Tidak hanya Spitzer, banyak pejabat di Amerika Serikat juga mundur gara-gara skandal sex. Bill Clinton pun hampir saja di-impeachment ketika berselingkuh dengan Monica Lewinsky, entah bargain politik apa yang akhirnya membuat Clinton lolos dari upaya impeachment itu.

Di Israel pun demikian, Presiden Israel, Moshe Kastav, mengundurukan diri dari jabatannya setelah dituduh melakukan pelecehan seksual dengan para bekas karyawatinya. masih banyak contoh pejabat di negara lainnya yang akhirnya mundur setelah terlibat skandal sex.

Lain Ladang Lain Belalang, lain Indonesa lain negara lain, di Indonesia orang yang mempunyai jejak rekam yang penuh sensasi justru didorong-dorong menjadi pemimpin. Padahal, katanya kita menjunjung tinggi-tinggi nilai-nilai moral dan agama.

Ada dua hal yang bisa disimpulkan terhadap fenomena pencalonan terhadap seseorang yang memiliki jejak rekam yang buruk menjadi pemimpin. Pertama, partai pengusung adalah partai tidak bermoral, partai porno, mengusung calon tidak melihat kapasitas dan jejak rekam moralnya, tetapi hanya mengandalkan popularitas dan keseksiannya.

Kedua, bila ada pemilih busuk, pemilih yang memilih bila ada money politik, maka bila ada pemilih yang memilih hanya dengan pandangan seksi atau cantiknya maka ia bisa disebut pemilih tidak bermoral atau pemilih porno. Bila calon yang mempunyai jejak rekam seperti di atas menang dalam pilkada, jangan-jangan orang yang berprofesi seperti Miyabi pun bisa menjadi kepala daerah.

1 komentar :

  1. Hello. Mas Ardi Winangun teman kuliah saya di Denpasar, Sukses Mas Ardi .. hehe ketemu disini

    BalasHapus

Ditunggu partisipasinya

Headline Editorial